Thursday 18th October 2018
  • Perpusarda Banyumas, Gedung Perpustakaan dan Arsip Daerah Jl. Jend. Gatot Subroto (depan Kantor Pajak), username= pespusarda password= Banyumas 10 Mbps
  • Perpustakaan Bank Indonesia, Jl . Jend. Gatot Subroto, masuk internal hotspot, klik lanjut 10 Mbps
  • Halaman sekitar Kampus, semua hampir sama. Ada IT Telkom 10 Mbps), IAIN/ STAIN (10 Mbps), Unsoed, Unwiku, Stikes Baturaden, Khasanah Institut, BSI, Stimik Amikom (10 Mbps), STIE Satria rata-rata 3 Mbps
  • Rumah Makan/ Cafe/ Loby Hotel rata-rata 3 Mbps
  • Plaza Telkom, Tanjung Purwokerto 10 Mbps
  • Grapari Telkomsel, Jl. Merdeka Purwokerto 10 Mbps
  • Rumah Sakit Elisabeth Purwokerto
  • Universitas Muhammadiyah Purwokerto 3 Mbps
  • Taman Rekreasi Baturaden 10 Mbps
  • Indo Telematika Education, Jl. Jend. Sudirman Timur Gg. Lapang 1 Purwokerto Kidul, 2 chanel masing masing 10 Mbps
  • Stasiun Purwokerto 10 Mbps
  • RRI Purwokerto 10 Mbps
  • Andang Pangrenan 3 Mbps
  • Alun-alun Purwokerto 10 Mbps
  • SMA Negeri 1, SMA Negeri 2 dan SMK Negeri 1 Purwokerto 10 Mbps
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Kesenian tradisional Banyumas adalah kekayaan budaya benda maupun tak benda yang tumbuh dan berkembang di wilayah bekas Karesidenan Banyumas, meliputi Kabupaten CilacapKabupaten BanyumasKabupaten Purbalingga, dan Kabupaten Banjarnegara. Sesuai dengan letak geografisnya, kesenian-kesenian di wilayah itu mendapatkan pengaruh dari pusat kebudayaan keraton Mataram YogyakartaSurakarta, dan Sunda. Namun seiring perkembangan zaman, pengaruh-pengaruh dari luar Banyumas itu hanya memperkaya khasanah saja, sebab kesenian-kesenian Banyumas memiliki karakternya sendiri, yaitu sebuah entitas kebudayaan ngapak. Kekhasan seni tradisi Banyumas bahkan menyebarkan pengaruh terhadap budaya sekitar, antara lain ke wilayah bekas karesidenan Kedu dan Pekalongan

Ebeg

Ebeg adalah jenis tarian rakyat yang berkembang di wilayah Banyumasan. Varian dari jenis kesenian ini di daerah lain dikenal dengan nama kuda lumping, dan jaran kepang. Ada juga yang menamakannya jathilan (Yogyakarta) dan reog (Jawa Timur). Tarian ini menggunakan ebeg yaitu anyaman bambu yang dibentuk menyerupai kuda berwarna hitam atau putih dan diberi kerincingan. Penarinya mengenakan celana panjang dilapisi kain batik sebatas lutut dan berkacamata hitam, mengenakan mahkota dan sumping ditelinganya. Pada kedua pergelangan tangan dan kaki dipasangi gelang-gelang kerincingan sehingga gerakan tangan dan kaki penari ebeg selalu dibarengi dengan bunyi kerincingan. Penari terdiri dari dua orang berperan sebagai penthul-tembem (penari topeng yang lebih sering melucu menggoda penonton), seorang berperan sebagai pemimpin atau dalang, 7 orang lagi sebagai penabuh gamelan. Jadi satu grup ebeg dapat beranggotakan 16 orang atau lebih. Semua penari menggunakan alat bantu ebeg, kecuali penthul-tembem. Ebeg termasuk jenis tari massal, pertunjukannya memerlukan tempat yang cukup luas seperti lapangan atau pelataran/halaman rumah. Waktu pertunjukan umumnya siang hari dengan durasi antara 1 – 4 jam. Peralatan untuk gending pengiring yang dipergunakan antara lain kendang, saron, kenong, gong, dan terompet. Selain gendhing dan tarian, ada juga ubarampe (sesaji) yang selalu disediakan berupa: bunga-bungaan, pisang raja dan pisang mas, kelapa muda, jajanan pasar, dan lain-lain. Untuk mengiringi tarian ini selalu digunakan lagu-lagu irama Banyumasan seperti ricik-ricik, gudril, blendrong, lung gadung, eling-eling (cirebonan). Yang unik, disaat saat kerasukan/mendem para pemainnya biasa memakan pecahan kaca (beling) atau barang tajam lainnya, mengupas kelapa dengan gigi, makan padi dari tangkainya, bekatul, bara api, dan lain-lain, sehingga menunjukkan kekuatannya Satria. Demikian pula pemain yang manaiki kuda kepang menggambarkan kegagahan prajurit berkuda dengan segala atraksinya. Biasanya dalam pertunjukan ebeg dilengkapi dengan atraksi barongsai a la Banyumas.

Laisan

Laisan adalah jenis kesenian yang melekat pada kesenian ebeg. Laisan dilakukan oleh seorang pemain pria yang sedang kesurupan. Badannya ditindih dengan lesung terus dimasukkan ke dalam kurungan, biasanya kurungan ayam. Dalam kurungan itulah Laisan berdandan seperti wanita. Setelah terlebih dulu dimantra-mantara, kurunganpun dibuka, dan munculah pria tersebut dengan mengenakan pakaian wanita lengkap. Laisan muncul di tengah pertunjukan ebeg. Pada pertunjukan ebeg komersial, salah seorang pemain biasanya melakukan thole-thole yaitu menari berkeliling arena sambil membawa tampah untuk mendapatkan sumbangan. Laisan, di wilayah lain biasa disebut sintren.

Lengger-Calung

Kesenian tradisional lengger-calung tumbuh dan berkembang di wilayah ini. Sesuai namanya, tarian lengger-calung terdiri dari lengger (penari) dan calung (gamelan bambu), gerakan tariannya sangat dinamis dan lincah mengikuti irama calung. Gerakan khas tarian lengger antara lain geyol, gedheg, dan lempar sampur. Dahulu, penari lengger adalah pria yang berdandan seperti wanita, namun kini umumnya ditarikan oleh wanita cantik, sedangkan penari prianya hanyalah sebagai badut pelengkap yang berfungsi untuk memeriahkan suasana. Badut biasanya hadir pada pertengahan pertunjukan. Jumlah penari lengger antara 2 sampai 4 orang, mereka harus berdandan sedemikian rupa sehingga kelihatan sangat menarik, rambut disanggul, leher sampai dada bagian atas biasanya terbuka, sampur atau selendang biasanya dikalungkan dibahu, mengenakan kain/jarit dan stagen. Lengger menari mengikuti irama khas Banyumasan yang lincah dan dinamis dengan didominasi oleh gerakan pinggul sehingga terlihat sangat menggemaskan. Peralatan gamelan calung terdiri dari gambang barung, gambang penerus, dhendhem, kenong dan gong yang semuanya terbuat dari bambu wulung (hitam). Yang tidak terbuat dari bambu hanyalah gendang, seperti gendang pada umumnya. Dalam penyajiannya calung diiringi vokalis yang lebih dikenal sebagai sinden. Satu grup calung minimal memerlukan 7 orang anggota, terdiri dari penabuh gamelan dan penari/lengger.[5]

Angguk Banyumasan

Tarian jenis ini sudah ada sejak abad ke-17, dibawa oleh para penyebar agama Islam yang datang dari wilayah Mataram-Bagelen. Tarian ini disebut angguk karena penarinya sering memainkan gerakan mengangguk-anggukan kepala. Kesenian angguk yang bercorak Islam ini mulanya berfungsi sebagai salah satu alat untuk menyiarkan agama Islam. Sayangnya jenis kesenian ini sekarang semakin jarang dipentaskan. Angguk dimainkan sedikitnya oleh 10 orang penari anak laki-laki berusia sekitar 12 tahun. Pakaian para penari umumnya berwarna hitam lengan panjang dengan garis-garis merah dan kuning di bagian dada/punggung sebagai hiasan. Celana panjang sampai lutut dengan hiasan garis merah, tanpa alas kaki, mengenakan kaos kaki panjang sebatas lutut, serta memakai topi pet berwarna hitam. Perangkat musiknya terdiri dari kendang, bedug, tambur, kencreng, 2 rebana, terbang (rebana besar) dan angklung. Syair lagu-lagu Tari Angguk diambil dari kitab Barzanji, berbahasa bahasa Arab. Tetapi akhir-akhir ini gerak tari dan syairnya mulai dimodifikasi dengan menyisipkan gerak tari serta bahasa khas Banyumasan tanpa mengubah corak aslinya. Bentuk lain dari kesenian angguk adalah aplang.Bedanya bila angguk dimainkan oleh remaja pria, maka aplang atau daeng dimainkan oleh remaja putri.

Wayang Kulit Gagrag Banyumasan

Sebagaimana masyarakat Jawa pada umumnya, masyarakat Banyumasan juga gemar menonton pertunjukan wayang kulit. Pertunjukan wayang kulit di wilayah Banyumas cenderung mengikuti pedalangan gagrag atau gaya Banyumasan. Seni pedalangan gagrag Banyumasan sebenarnya mirip gaya Yogya-Solo bercampur Kedu, baik dalam hal cerita, suluk maupun sabetannya. Bahasa yang dipergunakan pun tetap mengikuti bahasa pedalangan layaknya, hanya bahasa para punakawan diucapkan dengan bahasa Banyumasan. Nama-nama tokoh wayang umumnya sama, hanya beberapa nama tokoh yang berbeda seperti Bagong (Solo) menjadi Bawor atau Carub. Jika dalam punakawan Yogya-Solo, Bagong merupakan putra bungsu Ki Semar, dalam versi Banyumas menjadi anak tertua. Tokoh Bawor adalah maskotnya masyarakat Banyumas.

Ciri utama dari wayang kulit gagrag Banyumasan adalah napas kerakyatannya yang kental, dan dalang memang berupaya menampilkan realitas dinamika kehidupan yang ada di masyarakat. Tokoh pedalangan untuk Wayang Kulit Gagrag Banyumasan yang terkenal saat ini antara lain Ki Sugito Purbacarito, Ki Sugino Siswacarito, dan Ki Suwarjono.

Gending Banyumasan

Gending khas lagu-lagu Banyumasan sangat mewarnai berbagai kesenian tradisional Banyumasan, bahkan dapat dikatakan menjadi ciri khasnya, apalagi dengan berbagai hasil kreasi barunya yang mampu menampilkan irama Banyumasan serta dialek Banyumasan. Ciri-ciri khas lainnya antara lain mengandung parikan yaitu semacam pantun berisi sindiran jenaka, iramanya yang lebih dinamis dibanding irama Yogya-Solo bahkan lebih mendekati irama Sunda. Syairnya umumnya mengandung nasihat, humor, menggambarkan keadaan daerah Banyumas serta berisi kritik-kritik sosial kemasyarakatan. Lagu-lagu gending Banyumasan dapat dimainkan dengan gamelan biasa maupun gamelan calung bambu. Seperti irama gending Jawa pada umumnya, irama gending Banyumasan mengenal juga laras slendro dan pelog.[6]

Begalan

Begalan adalah jenis kesenian yang biasanya dipentaskan dalam rangkaian upacara perkawinan yaitu saat calon pengantin pria beserta rombongannya memasuki pelataran rumah pengantin wanita. Disebut begalan karena atraksi ini mirip perampokan yang dalam bahasa Jawa disebut begal. Yang menarik adalah dialog-dialog antara yang dibegal dengan sipembegal biasanya berisi kritikan dan petuah bagi calon pengantin dan disampaikan dengan gaya yang jenaka penuh humor. Upacara ini diadakan apabila mempelai laki-laki merupakan putra sulung. Begalan merupakan kombinasi antara seni tari dan seni tutur atau seni lawak dengan iringan gending. Sebagai layaknya tari klasik, gerak tarinya tak begitu terikat pada patokan tertentu yang penting gerak tarinya selaras dengan irama gending. Jumlah penari 2 orang, seorang bertindak sebagai pembawa barang-barang (peralatan dapur), seorang lagi bertindak sebagai pembegal/perampok. Barang-barang yang dibawa antara lain ilir, ian, cething, kukusan, saringan ampas, tampah, sorokan, centhong, siwur, irus, kendhil dan wangkring. Barang bawaan ini biasa disebut brenong kepang. Pembegal biasanya membawa pedang kayu. Kostum pemain cukup sederhana, umumnya mereka mengenakan busana Jawa. Dialog yang disampaikan kedua pemain berupa bahasa lambang yang diterjemahkan dari nama-nama jenis barang yang dibawa, contohnya ilir yaitu kipas anyaman bambu diartikan sebagai peringatan bagi suami-isteri untuk membedakan baik buruk. Centhing, tempat nasi artinya bahwa hidup itu memerlukan wadah yang memiliki tatanan tertentu jadi tidak boleh berbuat semau-maunya sendiri. Kukusan adalah alat memasak atau menanak nasi, ini melambangkan bahwa setelah berumah tangga cara berpikirnya harus masak/matang. Selain menikmati kebolehan atraksi tari begalan dan irama gending, penonton juga disuguhi dialog-dialog menarik yang penuh humor. Biasanya usai pertunjukan, barang-barang yang dipikul diperebutkan para penonton. Sayangnya pertunjukan begalan ini tidak boleh dipentaskan terlalu lama karena masih termasuk dalam rangkaian panjang upacara pengantin.[7]

Rengkong

Rengkong adalah kesenian yang menyajikan bunyi-bunyian khas serupa suara kodok mengorek secara serempak yang dihasilkan dari permainan pikulan bambu. Pikulan bambu tersebut berukuran besar dan kuat tetapi ringan karena berbahan dasar bambu tua. Biasanya menggunakan bambu tali dengan panjang sekitar 2,6 meter. Pada kedua ujung bambu dibuat lubang persegi panjang selebar 1 cm, sekeliling bambu melintasi lobang tersebut diraut sebagai tempat bertengger tali penggantung ikatan padi. Dua ikat padi seberat ± 15 kg digayutkan dengan tali ijuk mengalungi sonari (badan rengkong bambu di tempat yang diraut). Di tengah masing-masing ikatan padi ada sunduk (tusuk) bambu sepanjang hampir 2 meter. Ujung atas sunduk bambu dimasukkan ke badan bambu rengkong dekat gantungan tali ijuk. Cara memainkannya, pikulan bambu rengkong yang berisi muatan padi diletakkan pada bahu kanan (dipikul). Pemikul mengayun-ayunkan ke kiri dan ke kanan dengan mantap dan teratur. Tali ijuk dengan beban padi yang menggantung pada badan bambu rengkong pun bergerak-gerak, gesekan tali ijuk yang keras inilah yang menimbulkan suara berderit-derit nyaring. Kalau ada beberapa rengkong yang dimainkan serempak maka akan timbul suara yang mengasyikan, khas alam petani. Bila dimainkan dengan berbaris berarak-arakan maka suasananya akan lebih semarak. Kesenian tradisional para petani ini biasanya diadakan pada pesta perayaan panen atau pada hari-hari besar nasional.

Kesenian lainnya di Wilayah Banyumasan

Kesenian – kesenian lainnya (termasuk kesenian serapan) yang tumbuh berkembang di wilayah Banyumasan antara lain adalah:

  • Bongkel, adalah musik tradisional Banyumasan yang mirip dengan angklung, hanya terdiri dari satu jenis instrumen dengan empat bilah berlaras slendro. Nada-nadanya 2 (ro), 3 (lu), 5 (mo), 6 (nem).
  • Buncis, merupakan perpaduan antara seni musik dengan seni tari yang dimainkan oleh 8 orang pemain. Dalam pertunjukannya diiringi dengan perangkat musik angklung. Para pemain buncis selain menjadi penari juga menjadi pemusik serta vokalis.
  • Aksimuda adalah kesenian bernapas Islam yang disajikan dalam bentuk atraksi pencak silat yang digabung dengan tari-tarian.
  • Salawatan Jawa menjadi salah satu seni musik bernapaskan Islam dengan perangkat musik berupa trebang jawa. Dalam pertunjukannya kesenian ini menyajikan lagu-lagu yang diambil dari kitab Barzanzi.
  • Cowongan/ Nini Cowong merupakan upacara meminta hujan. Upacara ini dilakukan bila hujan tidak turun dalam waktu yang sudah cukup lama. Wujud Nini Cowong seperti jaelangkung.
  • Ujungan, menampilkan atraksi agak mengerikan karena pemainnya saling sabet-sabetan dengan menggunakan rotan.

Sumber : id.wikipedia.org/wiki/Seni_tradisional_Banyumasan

Cenil & Intil

Cenil, makanan ini bertekstur kenyal terbuat dari singkong dan tepung kanji dengan ditaburi parutan kelapa. Dengan ...

Getuk Goreng

Getuk goreng sokaraja merupakan makanan khas dari banyumas yang tepatnya di Kecamatan Sokaraja. Salah satu bahan utama ...

Klanting

Klanting adalah cemilan yang terbuat dari singkong, cemilan asli Purwokerto, bentuknya yang bulat seperti cincin ...

Nopia & Mino

Bahan utama nopia adalah tepung terigu dengan isi yang beragam, bisa coklat, gula, durian, bawang, pandan ataupun ...

Kraca

Makanan ini adalah keong kecil yang biasanya didapat dari sawah yang diberi kuah yang rasanya gurih dan sedikit pedas ...

Kluban

Kalau dalam bahasa Indonesia biasa disebut dengan urab. Hanya kluban ini berbeda karena pengolahan parutan kelapa ...

Soto Sokaraja

Soto Sokaraja (Sroto) sama saja dengan soto pada umumnya, namun terdapat perbedaan yang menjadi ciri khas soto sokaraja ...

Keripik

Ada bermacam-macam keripik yang ada di Banyumas, sehingga Purwokerto yang merupakan ibukota Kabupaten Banyumas disebut ...

Mendoan

Mendoan memang menjadi salah satu primadona makanan di Purwokerto Banyumas. Terbuat dari tempe yang lain dari yang ...

Bagi anda yang sering bepergian baik warga kota purwokerto atau yang sering ke Purwokerto pasti membutuhkan informasi armada transportasi yang ada. Informasi tentang travel belum tentu diketahui oleh warga Purwokerto sendiri apalagi pendatang,  berikut daftarnya :

  1. Indra Persada Travel, Melayani Purwokerto, Semarang, Pekalongan Jl. Ovis 26 (0281) 640607
  2. Jaya Mandiri Travel Melayani Cilacap – Jl. Pahlawan Tanjung (0281) 622048
  3. Karunia Travel Semarang, Jakarta, dll – Jl. Dr. Suparno 18A (Depan SMEA Negeri) (0281) 639234 / 7601701
  4. Mitra Travel Semarang dll. Jl. Jend. Soedirman 205 (0281) 641037,641711
  5. Rajawali Putra & Diana Travel Bogor, Jl. Let Kol Isdiman Gg II 5A (0281) 6374444
  6. Cobra Pake, Melayani juga titipan kilat. Jl. Kol. Sugiono No. 18 0281 – 633527
  7. Hanny Jaya Travel, Semarang, Bandung Telp. 0281-7646777,7650999
  8. Maju Jaya Travel, Semarang, Bandung dll Jl. Jend. Suprapto Gg IV No. 4 0281 – 638444, 633475, 7613500
  9. Satria Jl. Raya Karangpucung 624666
  10. Camar Putera Travel, Melayani Jurusan jakata – Jl. Gerilya Raya 729 (0281) 609566
  11. Celebrity Travel, Melayani Jakarta PP Jl. RA Wiraatmadja 29 (0281) 636830 / 626164
  12. Dragon Jaya Expres, Melayani Jurusan Jakarta – (0281) 64166 / 6351115.
  13. Erny Travel, Melayani Jurusan Bogor Jl. Gerilya Barat 748 (0281) 624967
  14. Tri Kusuma Travel, Semarang, Jakarta Jl. Let Kol Isdiman 8 (0281) 635358, 635874
  15. Bintang Wijaya, Semarang dll. Jl. Overste Isdiman, 635340
  16. Panca Jaya Jl. Raya Kedungwringin 632308
  17. Pamitran Travel Rute Bandung – Purwokerto PP. Jl. DI Panjaitan, 0281 635898
  18. Srikandi Travel Rute Bandung – Purwokerto. Jl. Jend. Sudirman 617, 637721
  19. Rahayu Sawangan Rute Bandung – Purwokerto. 0281 637607
  20. Surya Wisata Buana T&T Kompl. Satria Plaza No. 2A 638896
  21. Karisma T&T Kompl. Satria Plaza Blok A Lt. 2 No. 1 633 322 Fax. 633320
  22. Dayakerta T&T Jl. KH.M. Syafei Blok F/4 Kebon Dalem, 631597
  23. Rudiant Tour Jl. Jend. Sudirrman Timur, 626005
  24. Mila Travel Jl. KH Wahid Hasyim 2 638662
  25. Andes Tour Jl. Gerilya Barat, 636995
  26. Nusantara T&T Kompl. Satria Plaza Blk. B-C/6 640881
  27. Panca Berlian Travel. Jl. HR. Bunyamin P1/3 (Apotik Aprilia) Limas Agung. (0281) 641612 /agen rumah : (0281) 642756.
  28. Cipaganti Travel. Jl. Mayjen Sutoyo 20.Purwokerto – Jawa Tengah. Tlp. 0281. 927 7778 / 914 9788
  29. Qyta Trans Purwokerto: Jl. HR. Bunyamin Ruko Bancar Kembar No. 007 Telp. (0281) 641333 Hotline 081-129-222-62/ 0857-8637-5999
  30. Agen Shuttle Bus Sumber Alam, Purwokerto : Jl. JL. Jend. Sudirman Timur, No. 762, Purwokerto Kidul, Kec. Purwokerto Selatan  Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah 53147 Telp. HP : 0878-3753-5365, 0856-4170-7611

Taksi Purwokerto :

  • Kobata 0281 642440/642441
  • Satria 0281 7668400

Bus Purwokerto :

  • PO. Nusantara (Bis Cepat Eksekutif) Jl. Jend. Sudirman Kranji Purwokerto Timur Jawa Tengah, Telp (0281) 635599, Semarang (024) 3520524
  • PO. Efisiensi http://efisiensi-online.com/  0281 – 628040
  • PO. Bis Cepat Budiman, kantor Pusat (0265) 339854
  • MSO Trans Jl. Ringin Tirto No.68, Bancarkembar, Purwokerto Utara, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah 53121 Telp./ HP : 0858-6991-5655
  • PO. Handoyo, Purwokerto Telp. : 0852-9129-3029
  • PO. Eka Sari Lorena Transport, JL Gerilya Tengah, No. B 2, Purwokerto Kidul, Purwokerto Selatan 53147 Telp. (0281) 630271

 

Translate »