Pemerintah Indonesia menegaskan tidak dapat mencegah negara-negara di kawasan Pasifik Selatan mengangkat kasus pelanggaran HAM di Papua ke Sidang Umum PBB.

Satu-satunya orang Arab yang mendapatkan kehormatan tertinggi dari pemerintah Israel karena menyelamatkan orang Yahudi dari tragedi Holocaust Nazi.

Dokter Mohamed Helmy, seorang warga negara Mesir, menyembunyikan seorang perempuan muda Yahudi dan membantu keluarganya di kota Berlin, Jerman, ketika Nazi memburu orang-orang Yahudi.

Mohamed Helmy ketika itu tinggal dan bekerja di kota Berlin sejak sebelum Perang Dunia II.

Diwakili oleh keponakannya, Helmy -meninggal dunia pada 1982- mendapatkan penghargaan tersebut dalam sebuah upacara di Kantor Kementerian luar negeri Jerman di kota Berlin.

Putri Anna Boros juga datang dari kota New York, AS untuk ikut terlibat dalam pemberian penghargaan kepada Dokter Helmy.

Sekitar 70 orang Muslim -dari sekitar 26.500 orang non-Yahudi- diakui oleh pemerintah Israel sebagai penyelamat orang-orang Yahudi dari kekejaman Nazi Jerman.

Mohamed Helmy menetap di Berlin pada 1922, saat studi kedokteran dan bekerja di sebuah rumah sakit. Dia sendiri mengalami diskriminasi rasial saat Partai Nazi berkuasa, sehingga dia kehilangan pekerjaan dan dua kali ditangkap.

Ketika penganiayaan terhadap orang Yahudi Jerman meningkat, Helmy memberikan tempat persembunyian untuk salah seorang pasiennya, Anna Boros, 21 tahun, di rumah miliknya di kota tersebut.

Dia berhasil melindunginya dari Gestapo -polisi rahasia Nazi- dan memberikan bantuan kepada ibu, ayah tirinya dan neneknya hingga Perang Dunia II berakhir pada 1945.

Belakangan, Anna Boros, memberikan kesaksian dalam sebuah tulisan: “Dengan kebaikan hatinya, Dokter Helmy melakukan segalanya demi saya. Karena itulah, saya berterima kasih kepadanya.”

Pada 2013 lalu, Helmy telah diakui oleh Yad Vashem, lembaga nasional bentukan pemerintah Israel terkait korban tragedi holocaust, sebagai orang non-Yahudi yang mempertaruhkan nyawa dan segalanya demi menyelamatkan orang-orang Yahudi dari kejahatan Nazi Jerman. (bbc-29 oktober 2017)

Presiden keenam RI Susilo Bambang Yudhoyono menemui Presiden Joko Widodo di Istana Kepresidenan, Jakarta, Jumat (27/10/2017).

Keduanya berbincang santai di beranda Istana Merdeka, sambil memandangi hamparan halaman Istana Kepresidenan tengah yang asri. Momen ini biasa disebut Verranda Talk. Hanya tamu-tamu yang dianggap spesial yang biasanya diajak Jokowi mengobrol di beranda.

Tak terdengar apa yang diperbincangkan. Sesekali di tengah pembicaraan, keduanya tertawa akrab.

Juru bicara Partai Demokrat Imelda Sari mengatakan, pertemuan keduanya pasti lah membicarakan isu terkini yang tengah berkembang, salah satunya terkait Perppu ormas yang baru saja disahkan menjadi UU.

“Terkait UU ormas, nanti bisa ditanya langsung ke Pak SBY selesai pertemuan,” kata Imelda kepada Kompas.com.

Pertemuan ini berlangsung mendadak dan tak ada di jadwal resmi Jokowi. Tiba-tiba saja awak media yang ada di ruangan pers diminta bersiaga di dekat Istana Merdeka.

Tak lama kemudian, sekitar pukul 14.08, Jokowi dan SBY keluar dari Istana Merdeka dan duduk di beranda. Hingga berita ini diturunkan, pertemuan masih berlangsung.

SBY selaku Ketua Umum DPP Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sebelumnya mengancam akan mengeluarkan petisi politik jika pemerintah tidak merevisi Undang-Undang tentang Organisasi Masyarakat.

Hal itu ditegaskan oleh SBY melalui video yang diunggahnya ke akun YouTube Demokrat TV.

SBY menuturkan, pemerintah sudah berjanji untuk merevisi UU Ormas setelah Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor Tahun 2 Tahun 2017 disahkan pada paripurna DPR beberapa waktu.

“Bagaimana kalau pemerintah ingkar janji, bagaimana kalau Demokrat sudah setuju tapi dengan catatan dilakukan revisi, tiba-tiba pemerintah tidak melakukan revisi, ingkar janji,” ujar SBY, Rabu (25/10/2017). Kompas-IHSANUDDIN