Hari Asyura adalah hari ke-10 pada bulan Muharram. Kata ‘asyura‘ sendiri berarti ‘kesepuluh’. Hari ini menjadi terkenal karena bagi kalangan Syi’ah dan sebagian Sufi merupakan hari berkabungnya atas wafatnya Husain bin Ali, cucu Muhammad pada Pertempuran Karbala tahun 61 H (680 M). Selain sebagai hari berkabung bagi Syiah dan Sufi, apakah keistimewaan hari Asyura dalam sejarah? Berikut ini informsasi seputar asal-usul hari Asyura.

Pra-Islam

Asyura sudah menjadi hari raya resmi bangsa Arab sebelum munculnya Islam di wilayah itu. Pada masa itu, orang-orang berpuasa dan bersyukur menyambut ‘Asyura’. Mereka merayakan hari itu dengan penuh suka cita. Hari Asyura bagi bangsa Arab sama seperti hari Nawruz di Iran yang juga dijadikan hari raya di negeri itu.

Dalam sejarah Arab, hari ‘Asyura (10 Muharram) adalah hari raya bersejarah. Pada hari itu setiap suku mengadakan perayaan dengan mengenakan pakaian baru dan menghias kota-kota mereka. Sekelompok bangsa Arab, yang dikenal sebagai kelompok Yazidi, merayakan hari raya tersebut sebagai hari suka cita (https://id.wikipedia.org/wiki/Hari_Asyura).

Asyura dalam Sejarah Islam

Sebelum munculnya Islam, bangsa Arab adalah bangsa yang majemuk dari segi agama. Ada pemeluk Zoroaster, Nasrani, Yahudi, dan agama-agama kuno bangsa Timur Tengah lainnya. Hari Asyura sudah menjadi hari peringatan dimana beberapa orang Mekkah biasanya melakukan puasa. Ketika Nabi Muhammad melakukan hijrah ke Madinah, ia mengetahui bahwa Yahudi di daerah tersebut berpuasa pada hari Asyura (bisa jadi saat itu merupakan hari besar Yahudi Yom Kippur). Saat itu, Muhammad menyatakan bahwa Muslim dapat berpuasa pada hari-hari itu (Sahih Bukhari 1900; Sahih Muslim 1130).

Ketika pengikutnya menanyakan mengapa mengikuti puasa orang-orang Yahudi dan Nasrani, agar berbeda dari kedua agama tersebut, Muhammad memerintahkan tahun depan agar umat Islam mengawali sehari lebih dulu dari mereka. Dari Ibn ‘Abbas katanya: “Ketika nabi S.A.W berpuasa pada hari ‘Asyura, dan baginda menyuruh para sahabat berpuasa padanya. ”Para Sahabat berkata: “Wahai rasulullah, sesungguhnya hari itu hari yang dibesarkan oleh orang-orang Yahudi dan Nasara.” Lalu sabda nabi S.A.W: “Maka pada tahun hadapan insya Allah kita akan berpuasa (bermula) pada hari kesembilan.” Lalu Ibn ‘Abbas menceritakan: “Tidak sempat datang tahun hadapan, nabi S.A.W diwafatkan (oleh Allah).” (Hadith riwayat Muslim dan Abu Daud)

Melihat kaum Yahudi dan Nasrani berpuasa pada hari Asyura, Muhammad meyakini meyakini bahwa Musa berpuasa pada hari tersebut. Puasa  Musa itu untuk mengungkapkan kegembiraan kepada Tuhan karena kaum Yahudi sudah terbebas dari Fira’un. Kaum Sunni meyakini keistimewaan pada hari Asyura karena terjadi hal-hal sebagai berikut:

  • Hari diciptakannya Nabi Adam dan hari tobatnya pula
  • Berlabuhnya bahtera Nabi Nuh di bukit Judi
  • Nabi Idris diangkat ke surga
  • Nabi Ibrahim selamat dari apinya Namrudz
  • Kesembuhan Nabi Yakub dari kebutaan dan ia dibawa bertemu dengan Nabi Yusuf
  • Nabi Musa selamat dari pasukan Fir’aun saat menyeberangi Laut Merah
  • Nabi Sulaiman diberikan kerajaan besar dan menguasai bumi
  • Nabi Yunus dikeluarkan dari perut paus
  • Nabi Isa diangkat ke surga

Di kalangan suku Banjar yang merupakan muslim Sunni di Kalimantan, Hari Asyura dirayakan ekspresi kegembiraan dengan membuat bubur Asyura yang terbuat dari beras dan campuran 41 macam bahan yang berasal dari sayuran, umbi-umbian dan kacang-kacangan. Bubur Asyura tersebut akan disajikan sebagai hidangan berbuka puasa sunat Hari Asyura.

Perayaan Asyura Syiah

Khalifah Ali adalah khalifah keempat dan merupakan kalifah pertama dari kalangan Syiah. Ali adalah menantu Muhammad, suami Aisah, putri Muhammad dari pasangan dengan Khadijah. Ketika Ali mendapat giliran untuk menjadi khalifah, baik kelompok Sunni maupun Syiah menerima dengan lapang dada. Ali adalah salah satu dari empat orang dekat (sahabat) Muhammad. Ali mendapat giliran terakhir karena usianya paling muda. Ali wafat di tangan pemberontak, yaitu para pengikut Muawiyah yang berkuasa di wilayah Irak dan Suriah (Syam).

Ali digantikan oleh Husain. Sementara itu Muawiyah telah mendirikan kekhalifaan yaitu Kekhalifahan Ummayah. Husein bersama 70 orang pengikut setianya (bani Hasyim) berperang dengan pasukan Muawiyah yang dipimpin oleh Ibnu Ziyad atas perintah Khalifah Muawiyah. Pertempuran itu terjadi di daerah Karbala, Irak. Dengan sekejab Husein dan seluruh pengikutnya dibantai. Yang tersisa tinggallah kaum perempuan dan anak Husein yang sedang sakit bernama Ali zainal abidin bin Husain. Peristiwa itu terjadi tepat tanggal 10 Muharram, yaitu jatuh pada saat perayaan Asyura.

Kaum Syiah memperingati hari Asyura untuk mengenang terbunuhnya Husein, anak Ali, cucu Muhammad. Maka, tak heran jika dalam perayaan ‘Asyura Syiah’ adalah sebuah seremoni kesedihan dan kedukaan yang mendalam.

Asyura yang berbeda

Berdasarkan tradisi baik Sunni maupun Syiah menganggap penting hari Asyura. Akan tetapi, essensi perayaan antara Sunni dan Syiah berbeda. Kaum Sunni menganggap penting karena menjadi Sunnah Rasul untuk berpuasa pada tanggal 9-10 Muharam. Sedangkan kaum Syiah, pada tanggal 10 Muharam, tepat pada saat perayaan Asyura, berduka atas terbunuhnya khalifah kedua dari kaum mereka.

Untuk mengungkapkan kesedihan yang mendalam, tak jarang perayaan Asyura Syiah diungkapkan dalam bentuk yang sangat ekstrem dengan menyiksa diri, menyayat kulit sendiri, memukuli atau mencambuki diri sendiri, sampai mengeluarkan darah. Bentuk pengungkapan yang sangat ektrem seperti itu menjadi bahan bagi kaum Sunni untuk mencapnya sebagai perbuatan yang sesat dan tidak sejalan dengan teladan Muhammad.

Pada suatu sore, seorang putra menghampiri ibunya di dapur, yang sedang menyiapkan makan malam, dan ia menyerahkan selembar kertas yang selesai ditulisnya. Setelah ibunya mengeringkan tangannya yang basah dengan celemek, Ia membaca  tulisan si anak.

Ma, berikut ini utang mama kepada saya selama ini: Untuk memotong rumput Rp 5.000 Untuk membersihkan kamar, minggu ini, Rp 1.000 Untuk pergi ke toko menggantikan mama Rp 2.500 Untuk menjaga adik waktu mama belanja Rp 2.500 Untuk membuang sampah Rp 1.000 Untuk rapor yang bagus Rp 5.000 Untuk membersihkan dan menyapu halaman Rp 3.000 Jumlah utang Rp 20.000

Si ibu memandang anaknya yang berdiri di situ dengan penuh kasih, berbagai kenangan terlintas dalam pikiran ibu . Kemudian ia mengambil pulpen, dan membalikkan kertas yang baru saja dibaca. Kemudian ia menulis dan menyerahkannya kepada sang anak untuk dibacanya.

Anak mama tercinta, untuk sembilan bulan mama mengandungmu dan merawat kandungan yang tumbuh dalam perut mama, GRATIS. Untuk semua malam ketika mama menemanimu , mengobatimu, dan mendoakanmu, GRATIS. Untuk semua saat susah, dan semua air mata yang disebabkan olehmu selama ini, GRATIS.

Untuk semua malam yang dipenuhi rasa takut dan rasa cemas di waktu yang lalu dan yang akan datang, GRATIS. Untuk mainan, makanan, baju, dan juga menyeka hidungmu yang sedang flu ,GRATIS, wahai anakku. Dan kalau kamu menjumlahkan semuanya, harga cinta dan kasih sayang mama padamu adalah GRATIS.

Ketika anak itu selesai membaca apa yang ditulis ibunya, air matanya berlinang, dan ia menatap dengan sendu wajah ibunya, sambil mencium ibunya ia  berkata ”Ma, aku sangat sayang pada Mama”.

Kisah, renungan , ini saya terima dari seseorang melalui e-mail. Sebuah fenomena betapa kasih sayang seorang ibu kepada anaknya. Tak mengharapkan balas jasa. Betapa pengorbanan yang besar dilakukan demi kasih sayangnya pada sang anak. Kasih ibu kepada beta, tak terhingga sepanjang masa, hanya memberi tak harap kembali, bagai sangsurya menyinari dunia. Begitulah syair lagu yang menggambarkan betapa mulianya sang ibu.

Oleh sebab itu ketika sahabat bertanya pada Rasulullah. “ Wahai Rasulullah andaikata aku boleh bersujud kepada manusia, kepada siapa aku harus bersujud”, Rasulullah menjawab “ kepada ibumu”.

Pertanyaan ini diulangi sahabat sampai 3 kali dan dijawab oleh rasulullah dengan jawaban yang sama yaitu kepada ibumu. Barulah ketika pertanyaan keempat baru Rasulullah menjawab, kepada ayahmu. Artinya betapa Rasul melihat betapa besar kasih sayang ibu dan pengorbanan ibu kepada anaknya.

Maka terlaknatlah anak yang durhaka kepada ibunya (orangtuanya), hukumannya bukan saja diakhirat tapi juga didunia sudah dihukum dengan kehidupan yang sengsara, seperti Alqomah dijaman rasulullah. Semua ini dikarenakan redho Allah adalah redhonya orangtua, murka Allah adalah murkanya orangtua, demikian hadis rasulullah. ( Sruntul.com | From : Kasih Purwantoro – email : kasih@asc.co.id)