Belanja pemerintah dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2018 sebesar Rp 2.204,3 triliun. Terbagi atas belanja pemerintah pusat Rp 1.443,2 triliun dan transfer ke daerah dan dana desa sebesar Rp 761 triliun.

Komponen belanja pemerintah pusat meliputi belanja Kementerian Lembaga (KL) sebesar Rp 814,1 triliun dan non KL sebesar Rp 629,2 triliun.

Dari seluruh Kementerian yang ada, maka Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) yang mendapatkan anggaran paling besar dengan Rp 106,9 triliun. Sementara untuk Lembaga, adalah anggaran Polri dengan Rp 77,8 triliun.

Berikut rinciannya:

1. Kementerian 2018

  1. Kementerian PUPR Rp 106,9 triliun
  2. Kementerian Pertahan Rp 105,7 triliun
  3. Kementerian Agama Rp 62,2 triliun
  4. Kementerian Kesehatan Rp 59,1 triliun
  5. Kementerian Perhubungan Rp 48,2 triliun
  6. Kementerian Keuangan Rp 45,7 triliun
  7. Kementerian Ristek Dikti Rp 41,3 triliun
  8. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Rp 40,1 triliun
  9. Kementerian Sosial Rp 34 triliun
  10. Kementerian Pertanian Rp 23,8 triliun

2. Kementerian 2017

  1. Kementerian PUPR Rp 105,6 triliun
  2. Kementerian Pertahanan Rp 104,4 triliun
  3. Polri Rp 72,4 triliun
  4. Kementerian Agama Rp 60,7 triliun
  5. Kementerian Kesehatan Rp 58,3 triliun
  6. Kementerian Perhubungan Rp 48,7 triliun
  7. Kementerian Keuangan Rp 42,2 triliun
  8. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Rp 39,8 triliun
  9. Kementerian Ristek dan Dikti Rp 39,4 triliun
  10. Kementerian Pertanian Rp 23,9 triliun

3. Kementerian

1. Kementerian PUPR anggaran Rp 104,1 triliun
2. Kementerian Pertahanan Rp 99,5 triliun
3. Polri dengan Anggaran Rp 73 triliun
4. Kementerian Kesehatan Rp 63,5 triliun
5. Kementerian Agama  Rp 57,1 triliun
6. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Rp 49,2 triliun
7. Kementerian Perhubungan Rp 48,5 triliun
8. Kementerian Riset dan Teknologi Rp 40,6 triliun
9. Kementerian Keuangan Rp 39,3 triliun
10. Kementerian Pertanian Rp 31,5 triliun.

Sumber : detik.com & kompas.com

 

Peran wanita dalam dunia pekerjaan kini tidak lagi bisa dipandang sebelah mata. Walau masih tidak banyak wanita yang mengisi jabatan tertinggi di sebuah perusahaan, beberapa wanita ini mampu membuktikannya. Tidak hanya jabatan yang tinggi, gaji besar pun mampu didapatkan.

Hasi survei dari perusahaan kompensasi eksekutif Equillar memperlihatkan data bos wanita dengan gaji paling tinggi di dunia. Rata-rata wanita ini bekerja di perusahaan sektor teknologi.

Berikut daftarnya seperti dilansir dari CNNmoney.com, Sabtu (18/2/2017)

7. Phebe Novakovic

Perusahaan: General Dynamics
Jabatan: CEO
Kompensasi gaji: US$ 6,7 juta setara Rp 87,1 miliar (Kurs: Rp 13 ribu per dolar)
Total gaji per tahun: US$ 20,4 juta atau Rp 272 miliar

6. Indra Nooyi
Perusahaan: PepsiCo
Jabatan: CEO
Kompensasi gaji: US$ 6,3 juta atau Rp 84,07 miliar
Total gaji per tahun: US$ 22,2 juta atau Rp 296 miliar

5. Angela Ahrendts
Perusahaan: Apple
Jabatan: Senior Vice President (Retail and Online)
Kompensasi gaji: US$ 5,8 juta atau Rp 77,4 miliar
Total gaji per tahun: US$ 25,8 juta atau Rp 344 miliar

4. Mary Barra
Perusahaan: General Motors
Jabatan: CEO
Kompensasi gaji: US$ 5,4 juta atau Rp 72 miliar
Total gaji per tahun: US$ 28,6 juta atau Rp 381 miliar

3. Ruth Porat
Perusahaan: Alphabet
Jabatan: Chief Financial Officer (CFO)
Kompensasi gaji: US$ 25,1 juta atau Rp 33,4 miliar
Total gaji per tahun: US$ 31 juta atau Rp 413 miliar

2. Marissa Mayer
Perusahaan: Yahoo!
Jabatan: Chief Executive Officer (CEO)
Kompensasi gaji: US$ 1,5 juta atau Rp 20 miliar
Total gaji per tahun: US$ 36 juta atau Rp 480 miliar

1. Safra Catz
Perusahaan: Oracle
Jabatan: CEO
Kompensasi gaji: US$ 971 ribu atau Rp 12,9 miliar
Total gaji per tahun: US$ 41 juta atau Rp 547 miliar

 

liputan6.com –

Pilihan pembayaran dalam situs belanja online atau e-commerce kian beragam, namun demikian ada tantangan tersendiri bagi pelaku e-commerce di Indonesia karena masih ada beberapa masyarakat yang tidak memiliki rekening bank.

Hal tersebut membuat pelaku e-commerce di Indonesia harus memutar otak guna memberikan kemudahan bagi konsumen dalam melakukan transaksi pembayaran.

Tantangan lainnya adalah tidak semua pengguna memiliki rekening bank, serta kartu kredit dan debit.

“Dengan luasnya wilayah geografi di Indonesia, masih banyak pengguna di daerah terpencil yang belum memiliki kartu kredit dan debit sebagai sarana pembayaran belanja online,” ungkap Chief Executive Officer (CEO) Shopee Chris Feng saat berbincang dengan Kompas.com di Kantor Shopee, Wisma 77, Jakarta, Rabu (27/9/2017).

Feng mengatakan, dengan itu pihaknya harus mencari rekanan atau partner yang bisa menyediakan sarana pembayaran tanpa harua menggunakan kartu kredit maupun debit.

“Kami berkolaborasi dengan Indomaret sebagai salah satu alternatif metode pembayaran, dimana pengguna dapat membayarkan transaksi mereka di gerai Indomaret yang tersebar di seluruh Indonesia,” jelasnya.

Selain itu, lanjut Feng, pihaknya juga terus mengembangkan salah satu metode pembayaran masa depan ialah dompet elektronik.

Menurutnya, saat ini Shopee memiliki fitur dompet elektronik, ShopeePay, yang digunakan untuk transaksi non-tunai. Feng menegaskan, popularitas dompet elektronik sedang meningkat karena kenyamanan penggunaan yang ditawarkan.

“Kami melihat dompet elektronik sebagai peluang yang menarik untuk dikembangkan lebih lanjut di masa depan,” jelasnya.

Sementara dari aspek perizianan, Feng belum menjelaskan lebih lanjut terkait proses perizinan dompet elektronik tersebut.

“Untuk saat ini kami belum dapat memberikan komentar mengenai hal ini,” pungkasnya.

Pada semester I 2017, perusahaan e-commerce Shopee membukukan transaksi (gross merchandise value) senilai 3 miliar dollar AS.

Perusahaan yang bermarkas di kawasan Sience Park Singapura ini pun menargetkan pertumbuhan bisnis hingga mencapai angka dua digit sampai akhir tahun 2017. Kompas-PRAMDIA ARHANDO JULIANTO

BEIJING- Zhou Yahui, 39, dan Li Qiong, 38, menjadi headline media-media Tiongkok. Bukan karena keromantisan keduanya. Tapi justru karena berita perceraian Zhou dan Li. Keduanya memutuskan berpisah dan membagi harta kekayaan yang mereka miliki. Dalam kesepakatan perceraian, Li mendapatkan saham senilai 7,35 miliar yuan atau setara dengan Rp 14,5 triliun.
Besaran pembagian harta gono gini inilah yang kini menjadi pembicaraan publik Tiongkok. Mereka menyebutnya sebagai salah satu perceraian termahal dalam sejarah Tiongkok. Belum diketahui dengan pasti apa yang menyebabkan pasangan ini berpisah. Zhou dan Li dulu memang dikenal sebagai pasangan suami istri yang kaya raya. Awal tahun ini Hurun Report menempatkan mereka pada posisi ke sebelas sebagai miliarder atas usaha sendiri yang berusia dibawah 40 tahun. Zhou adalah pemilik dari perusahaan game online Kunlun Tech. Dia baru saja membeli aplikasi kencan gay Grindr. Harta kekayaan Zhou mencapai USD 3,5 miliar atau setara dengan Rp 46,19 triliun. Pengadilan Beijing mengungkapkan bahwa Zhou akan menyerahkan saham Kunlun ke Li sebesar 278 juta. Rabu (14/9) lalu, harga saham Kunlun ditutup dengan harga 26,44 yuan (Rp 52,2 ribu) per lembarnya. Jika dikalikan, artinya Li bakal mendapatkan saham sebesar Rp 14,5 triliun tadi. Zhou tetap menjadi pemegang saham terbesar di Kunlun. Sebab dia masih memiliki 386 juta saham atau 34,5 persen. “Ini bisa menjadi kasus perceraian paling mahal di negara ini. Nilai transfer ekuitas mencapai 7 miliar yuan yang artinya perusahaan dibagi dua oleh pasangan ini,” tulis Shanghai Securities News. Zhou dan Li bukan satu-satunya pasangan yang perceraiannya menjadi pembicaraan khalayak ramai. Taipan minyak Harold Hamm tahun lalu harus membayar USD 975 juta (Rp 12,9 triliun) ke mantan istrinya. Sedangkan taipan Rusia Dmitry Rybolovlev membayar USD 600 juta (Rp 7,9 triliun) pada mantan istrinya. Mantan istri bos F1 Bernie Ecclestone yaitu Slavica menerima harta gono gini sebesar USD 1,2 miliar (Rp 15,8 triliun) pada saat bercerai tahun 2008 la

 

Kalau kita perhatikan dunia pendidikan mulai jaman dulu sampai sekarang ini alias jaman modern, kita akan mengetahui bahwa setiap jenis atau bentuk pendidikan pada waktu-waktu tertentu selama satu periode pendidikan, selalu mengadakan evaluasi atau Perubahan. Artinya pada waktu-waktu tertentu selama satu periode pendidikan, selalu mengadakan penilaian terhadap hasil yang telah dicapai, baik oleh pihak terdidik maupun oleh pendidik.

KEGAGALAN GURU DALAM PROSES PEMBELAJARAN

Demikian pula dalam satu kali proses pembelajaran, guru hendaknya menjadi seorang evaluator yang baik, pembimbing yang baik. Kegiatan ini dimaksudkan untuk mengetahui apakah tujuan yang telah dirumuskan itu tercapai sesuai target atau belum, dan apakah materi pelajaran yang diajarkan sudah tepat. Semua pertanyaan tersebut………. akan dapat dijawab melalui kegiatan evaluasi atau penilaian.

Dengan menelaah pencapaian tujuan pengajaran, guru dapat mengetahui apakah proses belajar yang dilakukan cukup efektif, sesuai target,  memberikan hasil yang baik dan memuaskan atau sebaliknya. Jadi jelaslah bahwa hendaknya seorang Guru harus mampu dan terampil melaksanakan penilaian, karena dengan penilaian guru dapat mengetahui prestasi yang dicapai oleh siswa setelah ia melaksanakan proses belajar.

Dalam fungsinya sebagai penilai hasil belajar siswa, guru hendaknya terus menerus mengikuti hasil belajar yang telah dicapai oleh siswa dari waktu ke waktu. Informasi yang diperoleh melalui evaluasi ini merupakan umpan balik atau disebut dengan (feed back) terhadap proses belajar mengajar. Umpan balik ini akan dijadikan titik tolak untuk memperbaiki dan meningkatkan proses belajar mengajar selanjutnya. Dengan demikian proses belajar mengajar akan terus dapat ditingkatkan untuk memperoleh hasil yang sangat optimal.

Khusus untuk mata pelajaran yang berat-berat seperti :matematika, kimia, fisika, hampir semua guru telah melaksanakan evaluasi di akhir proses belajar mengajar di dalam kelas. Namun hasil yang diperoleh kadang-kadang kurang memuaskan. Kadang-kadang hasil yang dicapai dibawah standar atau di bawah rata-rata.

Pada mata pelajaran yang lainnya kadang dilaksanakan pada akhir pelajaran, dan ada juga pada saat proses belajar mengajar berlangsung. Kapan waktu pelaksanaan evaluasi tersebut tidak menjadi masalah bagi guru yang penting dalam satu kali pertemuan ia telah melaksanakan penilaian terhadap siswa di kelas.

Tetapi ada juga guru yang enggan melaksanakan evaluasi di akhir pelajaran, dikarenakan keterbatasan waktu, menurut pendapat mereka, mereka lebih baik menjelaskan semua materi pelajaran sampai tuntas untuk satu kali pertemuan, kemudian pada pertemuan berikutnya di awal pelajaran siswa diberi tugas atau soal-soal yang berhubungan dengan materi tersebut.

Ada juga guru yang berpendapat, bahwa penilaian di akhir pelajaran tidak mutlak dengan tes tertulis. Bisa juga dengan penilaian tes lisan atau tanya jawab, dan kehadiran anak didik. Kegiatan dirasakan lebih praktis atau lebih simple bagi guru, karena guru tidak usah bersusah payah mengoreksi hasil evaluasi anak didiknya. Tetapi cara atau kegiatan ini mempunyai kelemahan yaitu dalam suatu kelas terdapat anak didik yang suka gugup, pemalu,  walaupun ia mengetahui jawaban dari soal tersebut, ia tidak bisa menjawab dengan tepat karena rasa gugupnya itu. Dan kelemahan lain tes lisan terlalu banyak memakan waktu dan guru harus punya banyak persediaan soal.

Tetapi ada juga guru yang mengelompokkan beberapa orang anak didik yang pandai, anak didik yang kurang dan beberapa orang anak didik yang sedang kemampuannya untuk menjawab beberapa pertanyaan atau soal yang berhubungan dengan materi pelajaran itu.

“Cara mana yang akan digunakan oleh guru untuk mendidik anak didiknya tidak usah dipermasalahkan, yang jelas setiap guru yang mempunyai karakter masing-masing dalam mengajar dan dalam memberikan penialaian”.

Karena ada juga guru yang tidak menghiraukan tentang kegiatan ini, yang penting ia masuk kelas, mengajar, mau ia laksanakan evaluasi di akhir pelajaran atau tidak itu urusannya. Yang jelas pada akhir semester ia telah mencapai target kurikulum.

Akhir-akhir ini kalau kita teliti di lapangan, banyak guru-guru  yang mengalami kegagalan dalam melaksanakan evaluasi di akhir pelajaran. Hal ini tentu ada faktor penyebabnya dan apakah cara untuk mengatasinya.

Penulisan Artikel kritikan ini bertujuan untuk mengkritik kegagalan persekolah  (sekolah dasar SD, sekolah menengah atas SMA DAN PERKULIAHAN) oleh guru dalam melakukan evaluasi di akhir pelajaran. Mencari faktor penyebabnya dan cara untuk mengatasinya.

Dalam Artikel kritikan ini pembahasan masalahnya adalah :

  1. Kondisi permasalahan evaluasi di akhir pelajaran dipersekolahan pada saat ini
  2. Telaah teori atau pendapat ahli
  3. Kegagalan pelaksanaan evaluasi di akhir pelajaran
  4. Kesimpulan kritikan dan saran

Menurut Drs. Moh. Uzer Usman dalam bukunya (Menjadi Guru Profesional hal 11) menyatakan bahwa :

Tujuan penilaian adalah :

  1. Untuk mengetahui keberhasilan pencapaian tujuan,
  2. Untuk mengetahui penguasaan siswa terhadap materi pelajaran,
  3. Untuk mengetahui ketepatan metode yang digunakan,
  4. Untuk mengetahui kedudukan siswa di dalam kelompok atau kelas,
  5. Untuk mengaklasifikasikan seorang siswa apakah termasuk dalam kelompok yang pandai, sedang, kurang atau cukup baik dibandingkan dengan teman-teman sekelasnya.

Dan menurut buku yang berjudul ”Mengukur Hasil Belajar” (hal 72-74) yang di susun oleh Drs. Azhari Zakri menyatakan evaluasi bermanfaat bagi guru untuk :

  1. Mengukur kompetensi atau kapabalitas siswa, apakah mereka telah merealisasikan tujuan yang telah ditentukan.
  2. Menentukan tujuan mana yang belum direalisasikan sehingga dapat menentukan tindakan perbaikan yang cocok yang dapat diadakan
  3. Memutuskan ranking siswa, dalam hal kesuksesan mereka mencapai tujuan yang telah disepakati.
  4. Memberikan informasi kepada guru tentang cocok tidaknya strategi mengajar yang digunakan.
  5. Merencanakan prosedur untuk memperbaiki rencana pengajaran dan menentukan apakah sumber belajar tambahan perlu digunakan.
  6. Memberikan umpan balik atau (feed back) kepada kita informasi bagi pengontrolan tentang sesuai tidaknya pengorganisasian belajar dan sumber belajar.
  7. Mengetahui dimana letak hambatan pencapaian tujuan tersebut.

Atas dasar ini, faktor yang paling penting dalam evaluasi itu bukan pada pemberian angka. Melainkan sebagai dasar feed back (catu balik). Catu balik itu sendiri sangat penting dalam rangka revisi. Sebab proses belajar mengajar itu kontinyu (berulang), Setiap kali dilaksanakan proses pangajaran, harus dievaluasi (formatif). Sebaliknya bila evaluasi hanya dilaksanakan di akhir suatu program (sumatif) catu balik tidak banyak berarti, sebab telah banyak proses terlampaui tanpa revisi. karenanya perlu selalu melakukan penyempurnaan dalam rangka mengoptimalkan pencapaian tujuan.

Oleh karena itu, agar evaluasi memberi manfaat yang besar terhadap sistem pengajaran hendaknya dilaksanakan setiap kali proses belajar mengajar untuk suatu topik tertentu. Namun demikian evaluasi sumatif pun perlu dilaksanakan untuk pengembangan sistem yang lebih luas.

Dari tujuan dan manfaat evaluasi yang di atas itu, masih ada pendapat lain dari manfaat evaluasi seperti yang dikemukakan oleh Noehi Nasution dalam bukunya yang berjudul “Materi Pokok Psikologi Pendidikan” hal 167, menjelaskan bahwa kegiatan penilaian tidak hanya untuk mengisi raport kartu hasil studi  anak didik, tetapi juga untuk :

  1. Menseleksi anak didik,
  2. Menjuruskan anak didik,
  3. Mengarahkan anak didik kepada kegiatan yang lebih sesuai dengan potensi yang dimilikinya.
  4. Membantu orang tua untuk menentukan hal yang paling baik untuk anaknya, untuk membina dan untuk mempersiapkan dirinya untuk masa depan yang lebih baik.

Sebagai catatan:  yang penting dengan mengadakan evaluasi, sebagai guru dapat mengetahui kelemahan-kelemahan atau kekurangannya dalan menyampaikan materi pelajaran. Sehingga ia dapat menata kembali atau menggunakan strategi baru dalam proses pembelajaran sehingga akan mendapatkan hasil yang lebih baik dari sebelumnya.

Catatan penting:  Selain menilai hasil belajar murid, evaluasi juga menilai hasil mengajar guru dengan kata lain, guru dapat menilai dirinya sendiri dimana kekurangan akan dirinya dan kelemahannya dalam mengajar, sehingga memperoleh hasil yang sesuai dengan apa yang diharapkan.

Tes dan ujian yang mengukur pencapaian tujuan, belum mendapat perhatian yang serius oleh guru dan instruktur, kecuali pada akhir-akhir ini. Program pendidikan dan latihan sebelum ini telah dianggap sudah berhasil tanpa perlu ada evaluasi. Sikap ini disebabkan oleh empat kesulitan utama yakni :

  1. Tidak adanya kerangka konseptual yang sesuai bagi evaluasi,
  2. Kurangnya ketepatan dalam perumusan tujuan dalam pendidikan,
  3. Kesulitan yang meliputi pengukuran pendidikan,
  4. Sifat program pendidikan itu sendiri.

Namun dengan adanya investasi besar-besaran dalam pendidikan, telah dirasakan kebutuhan akan suatu bentuk evaluasi.

Evaluasi dapat mengambil dua macam bentuk :

  1. Ia dapat menilai cara mengajar seorang guru (dengan mengukur variabel-variabel seperti suatu kebiasaan-kebiasaan, humor, kepribadian, penggunaan papan tulis, teknik bertanya, aktivitas kelas, alat bantu audiovisual, strategi mengajar dan lain-lain).
  2. Ia dapat menilai hasil belajar (yakni pencapaian tujuan belajar).

Selama ini guru mengadakan penilaian hanya untuk mencari angka atau nilai untuk anak didik. Apabila anak banyak memperoleh nilai dibawah 6 (enam), maka guru menganggap bahwa anak didiklah yang gagal dalam menyerap materi pelajaran atau materi pelajaran terlalu berat, sehingga sukar dipahami oleh anak. Kalau anak didik  yang memperoleh nilai dibawah 6 mencapai 50% dari jumlah anak didik, hal ini sudah merupakan kegagalan dari guru dalam melaksanakan evaluasi di akhir pelajaran.

Apa penyebab Kegagalan Guru ini bisa terjadi ?

  1. Bahasa yang digunakan oleh Guru sukar untuk dimengerti.

Sehingga dalam menyampaikan materi pelajaran kepada anak didiknya, kalimatnya berbelit-belit atau bahasanya sukar dimengerti yang menyebabkan anak menjadi bingung dan sukar mencerna apa yang disampaikan oleh guru tersebut. Apalagi Guru yang mengajar menggunakan bahasa jawa untuk beberapa siswa yang tidak mengerti bahasa jawa, tentu saja akan sangat merugikan bagi siswa tersebut.

Tentu saja di akhir pelajaran mareka kewalahan menjawab pertanyaan atau tidak mampu mengerjakan tugas yang diberikan. Dan akhirnya nilai yang diperoleh jauh dari apa yang diharapkan.

  1. Guru kurang bisa menguasai kelas.

Guru yang kurang mampu menguasai kelas mendapat hambatan dalam menyampaikan materi pelajaran, hal ini dikarenakan Guru tidak bisa menyesuaikan diri dengan murid, atau suasana kelas yang tidak menunjang membuat anak yang betul-betul ingin belajar menjadi terganggu.

  1. Cara mengajar Guru yang membosankan,

Kebiasaan guru yang tidak dengan mengukur variabel-variabel seperti suatu kebiasaan-kebiasaan, humor, kepribadian, teknik bertanya, aktivitas kelas, alat bantu audiovisual, strategi mengajar dan lain-lain, Seperti tidak ada kreasinya.

Sehingga ketika proses pembelajaran didalam kelas murid menjadi malas atau mengantuk karena cara mengajar Guru yang membosankan.

  1. Guru kurang mampu memotivasi anak dalam belajar.

Sehingga dalam menyampaikan materi pelajaran, anak kurang menaruh perhatian terhadap materi yang disampaikan oleh guru, sehingga ilmu yang terkandung di dalam materi yang disampaikan itu berlalu begitu saja tanpa ada perhatian khusus dari anak didik.

  1. Guru kurang memahami kemampuan anak didiknya di dalam menyerap pelajaran.

Setiap anak didik mempunyai kemampuan yang berbeda dalam menyerap materi pelajaran. Guru yang kurang tangkap tidak mengetahui bahwa ada anak didiknya yang daya serapnya di bawah rata-rata mengalami kesulitan dalam belajar.

  1. Guru kurang disiplin dalam mengatur waktu.

Waktu yang tertulis dalam jadwal pelajaran, tidak sesuai dengan praktek pelaksanaannya, Waktu untuk memulai pelajaran selalu telat, tetapi waktu istirahat dan jam pulang selalu tepat atau tidak pernah telat.

  1. Guru enggan membuat persiapan tahapan proses belajar-mengajar.

Atau setidaknya menyusun langkah-langkah dalam mengajar, yang disertai dengan ketentuan-ketentuan waktu untuk mengawali pelajaran, waktu untuk kegiatan proses dan ketentuan waktu untuk akhir pelajaran.

8. Guru kurang menguasai materi,

tidak mempunyai kemajuan untuk menambah atau menimba ilmu misalnya membaca buku atau bertukar pikiran dengan rekan guru yang lebih senior dan profesional guna menambah wawasannya.

  1. Dalam tes lisan di akhir pelajaran, guru kurang terampil mengajukan pertanyaan kepada murid.

Memberikan latihan soal atau kuis, sehingga murid kurang memahami tentang apa yang dimaksud oleh guru.

   10. Guru selalu mengutamakan pencapaian target kurikulum.

Karena ada juga guru yang tidak menghiraukan tentang kegiatan ini, yang penting ia masuk kelas, mengajar, mau ia laksanakan evaluasi di akhir pelajaran atau tidak itu urusannya. Yang jelas pada akhir semester ia telah mencapai target kurikulum.

————————————————–

DAFTAR PUSTAKA :

  • Uzer Usman, Mohd.2009. Menjadi Guru Profesional. Jakarta: CV. RAJAWALI
  • Nasution, Noehi,2009. Materi Pokok Psikologi Pendidikan. Jakarta: PT.RINEKA CIPTA.
  • Zakri, Azhari, 2009. Mengukur Hasil Belajar. Riau : CV. RAJAWALI.
  • Zakri, Azhari, 2009. Guru dan Proses Belajar Mengajar. Riau. CV. RAJAWALI.

Sumber Asli :